Trending Topik

MEMBERITAKAN SITUASI DAN KONDISI TENTANG SELUK BELUK KEJADIAN DI DUNIA DAN DI INDONESIA KHUSUSNYA HOME I INTERNATIONAL I INDONESIA I BALI I KUTSEL I KUTUH BALI I WISATA KULINER I TORPEDO MEMBERITAKAN SITUASI DAN KONDISI TENTANG SELUK BELUK KEJADIAN DI DUNIA DAN DI INDONESIA KHUSUSNYA HOME I INTERNATIONAL I INDONESIA I BALI I KUTSEL I KUTUH BALI I WISATA KULINER I TORPEDO
2NoPost...Menyajikan artikel-artikel yang terkini dan TERPOPULER... tentang berita-berita yang ada di mancanegara pada umumnya dan di Indonesia khususnya, yang sangat menarik untuk anda baca...........!!!
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Rumput Laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumput Laut. Tampilkan semua postingan

Seaweed Farming in Bali

Seaweed farming
Pandawa Beach,
Traditional seaweed farming can still be found in some areas in Bali, Nusa Penida, Lembongan and in Kutuh village in the South. Major usage of this type of Carrageenan tropical seaweed (Eucheuma Cottoni) is widely utilized in the food industry such as agar agar. Thatched bamboo huts where sea farmers work, lined up along the beautiful white sandy beach, one of Bali’s “secret” beaches. Although the areas south of Nusa Dua have been transformed into touristic villas and hotels thus casting aside many traditional sea farmers, the pristine coastal village of Kutuh towards Timbis with its lovely cliffs have been spared and today protected for sustainable living. These villagers are poor and due to their poverty stricken land, many have switched to cultivating the local seaweed to earn their living and some have been working for more than twenty years. Depending on the planting and harvesting which can be daily, the villagers would come spend the day in their working huts, replanting and harvesting seaweed in shallow water mostly in the morning and towards late afternoon at low tide. 


Sumber : http://travelphotomedia.com

Rumput Laut Kutuh

Rumput Laut Desa Kutuh, Badung Bali
Mangupura (Bisnis Bali) – Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, untuk tahun ini sebagai duta Kabupaten Badung dalam lomba desa/kelurahan tingkat Propinsi Bali tahun 2011. Penilaian oleh Tim Propinsi dilaksanakan pada Rabu (25/5) kemarin, di Balai Br. Kaja Jati, Desa Kutuh.

Tim disambut Sekkab Badung Kompyang R. Swandika, anggota DPRD Badung I Ketut Suda Arsa, Ketua TP PKK Badung Ny. Ratna Gde Agung, Ketua WHDI Badung Ny . Ayu Sudikerta serta masyarakat Desa Kutuh. Sebelum melakukan penilaian, Tim Propinsi dapat menyaksikan pameran potensi Desa Kutuh mulai dari hasil pertanian lahan kering hingga hasil pertanian rumput laut sebagai andalan Desa Kutuh.

Perbekel Desa Kutuh I Nyoman Mesir mengatakan, potensi andalan di Desa Kutuh adalah budi daya rumput laut yang telah menjadi komoditi ekspor dan menjadi rumput laut yang terbaik di Indonesia. Dari 798 KK penduduk Desa Kutuh, 415 KK merupakan petani rumput laut yang terbagi menjadi 5 kelompok petani rumput laut dan dua kelompok wanita tani rumput laut. Lanjut Mesir, mengenai hasil produksi rumput laut dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Tahun 2009 misalnya, hasil produksi basah rumput laut mencapai 12,6 juta kg dengan nilai Rp 14,8 milyar lebih, sedangkan 2010 mengalami peningkatan menjadi 14,3 kg dengan nilai Rp 15,9 milyar lebih.

Dua kelompok rumput laut Desa Kutuh yakni Kelompok Segara Amerta dan Kelompok Sari Segara berhasil menjadi yang terbaik di tingkat nasional kategori pembudi daya rumput laut tahun 2009 dan 2010. “Pada awal tahun 2011 ini Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad telah mencanangkan Kutuh sebagai kawasan Minapolitan rumput laut,” tambahnya. Dengan semangat dan kerja keras masyarakat Kutuh, kini tingkat kesejahteraan masyarakat Kutuh sudah baik dan tidak ada lagi rumah tangga miskin di Desa Kutuh alias 0 %.

Di sisi lain, Sekkab Badung Kompyang R. Swandika menyampaikan, lomba desa ini merupakan salah satu indikator untuk mengukur sejauh mana tingkat pembangunan di desa. Melalui lomba ini pihak desa dapat memetik manfaatnya guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta dapat dijadikan contoh pembangunan di masa mendatang.

Selain itu lomba desa sebagai upaya mendorong tekad masyarakat untuk selalu berinovasi menggali potensi desa sekaligus sebagai evaluasi keberhasilan pembangunan di desa baik itu bidang pendidikan, ekonomi, sosial budaya serta pemberdayaan masyarakat. “Kami yakin Desa Kutuh sebagai duta Kabupaten Badung mampu menjadi yang terbaik di Propinsi Bali bahkan di tingkat nasional,” katanya.

Kepala BPMD Propinsi Bali I Putu Astawa selaku Ketua Tim penilai merasa salut dan terharu atas semangat krama Desa Kutuh dalam mengikuti lomba desa ini. Diharapkan, lomba ini bukan sekadar untuk meraih juara, tapi mendorong komitmen desa untuk mampu memberantas kebodohan dan mengentaskan kemiskinan. Ia juga mengharapkan masyarakat mampu meningkatkan kebersamaan sehingga dapat terwujudnya nilai luhur yakni Tri Hita Karana di masyarakat. 

Sumber: http://perikananbadung.blogspot.com

Harga rumput laut agak merangkak naik...........!!!

Petani rumput laut
Rumput Laut, Harga rumput laut di beberapa daerah terus merangkak naik, setidaknya dalam dua bulan terakhir. Di Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali harga rumput laut kini menembus level Rp 10.500 per kilogram (kg). Padahal, dua bulan lalu harga rumput laut di sana masih di kisaran Rp 8.000 per kg.

Kondisi yang sama terjadi di Ternate, Maluku Utara. Harga rumput laut di Ternate naik 42,8% menjadi Rp 10.000 per kg, dari dua bulan sebelumnya yang masih Rp 7.000 per kg.

I Ketut Lencana Yasa, Ketua Kelompok Tani Rumput Laut Sari Segara, Kutuh, Bali mengatakan, kenaikan harga ini dipicu semakin tingginya permintaan rumput laut, baik di pasar domestik maupun internasional.

Di dalam negeri, permintaan berdatangan dari beberapa sektor industri seperti farmasi, kosmetik dan makanan. Nah, mereka ini sekarang sedang giat memacu produksinya guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Itu sebabnya, mereka membutuhkan pasokan bahan baku rumput laut lebih banyak dari biasanya.
Sementara di luar negeri, permintaan banyak berasal dari China dan Filipina. Menurut Ketut, China lagi gencar-gencarnya mengembangkan industri pengolahan rumput laut. Mereka membeli rumput laut gelondongan dari Indonesia untuk diolah menjadi berbagai macam produk, seperti tepung carrageenan maupun produk makanan jadi lainnya. "Mereka juga mengolah itu sebagai bahan baku kosmetik dan farmasi," jelas Ketut kepada KONTAN, Senin (13/6).
Para petani di Bali biasanya mengekspor rumput laut ke China dan Filipina melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Saban bulan, Desa Kutuh bisa memasok 100 ton rumput laut kering.
Sayangnya, tidak semua daerah bisa mengimbangi tingginya laju permintaan rumput laut tersebut. Di Ternate, Maluku Utara misalnya, petani kesulitan memenuhi permintaan pasar.
Syalahuddin, petani rumput laut di Ternate bilang, persediaan rumput laut di daerahnya sedang minim karena belum memasuki masa panen. Menurutnya, periode panen rumput laut di Ternate baru terjadi di bulan Juli-Agustus.
Imbasnya, "pasokan di bulan sekarang sedikit berkurang," 


Sumber : industri.kontan.co.id

Desa Kutuh, penghasil rumput laut

Selasa, 07 Juni 2011 | 14:54
Kuta tak hanya populer sebagai kawasan wisata dengan pantai pasir putihnya. Daerah yang terletak di Kabupaten Badung, Bali ini, persisnya Desa Kutuh, juga penghasil rumput laut. Ada sekitar 275 pembudidaya di sana yang menghasilkan 600 ton rumput laut per tahun.

Desa Kutuh yang berada di kawasan Kuta Selatan sebenarnya lebih terkenal sebagai lokasi olah raga paragliding atau paralayang, karena memiliki tebing curam dengan pemandangan yang menakjubkan. Tapi, desa tersebut juga----- 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pandawa Beach - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger